RINDU PALING DALAM

    Bisa dibilang saya jauh dari semua keluarga. Yang dekat dengan saya adalah teman-teman saya di tempat kerja. Jauh bagi saya adalah intensitas bertemu tidak setiap hari. Setidaknya ada 30 hari saya tidak bertemu dengan istri dan anak-anak. Mengobati rindu dengan kecanggihan teknologi. Video call setiap hari, sekedar mendengar mereka untuk memanggil-manggil dan menyebut-nyebut "Ayah" berulang kali.

    Namun, pada kenyataannya  ada seseorang yang paling aku rindukan. Istri dan anak-anak sudah tentu, iya. Kerinduan yang paling dalam, paling aku rasakan adalah kepada wanita paruh baya yang rambutnya sudah seputih awan. Semua bisa menebak, ia adalah ibuku.

    Saya yakin kami berdua memiliki doa yang sama, doa untuk saling bahagia satu sama lain. Saya berharap ia bahagia dan ia pun rasanya mengharapkan saya bahagia.

    Hanya dengan mengingat senyumnya, saya merasakan surga sebelum masuk surga!

    Saya yakin semua orang yang hidupnya untuk mencintai ibunya akan merasakan energi positif dari alam semesta. Itu semua tuhan anugerahkan karena cinta kepada ibu begitu mulia. Siapa yang bisa kecewa terhadap perlakuan ibunya kepadanya? Saya yakin, tidak ada.

    Saya akan mengingat warna rambutnya di masa dulu. Begitu legam hitam, lurus, dan belah tengah. Kini warnanya telah berubah, seputih awan. Tidak ada yang berbeda dari perubahannya saat ini, ia tetap seorang ibu yang mencintai aku. Begitu tenang alirannya, jernih dari sumbernya, yaitu hatinya.

    Selanjutnya saya akan mengingat marahnya, begitu indah melayang-layang dalam ingatan. Ia marah untuk banyak hal. Terutama kalau aku meminta uang terus-terusan. Hahaha. Pulang main di waktu maghrib dan sulit bangun  pagi untuk pergi ke sekolah. Maafkan anakmu yang dulu, ibu. Marahnya aku ingat dengan indah.

    Saat ini suasana menjadi mencekam dan mengerikan. Ibu memang sudah tak memiliki tenaga untuk marah. Namun, marahnya akan diganti kecewa. Lebih baik aku lari dari ujung barat Indonesia sampai ke ujung timurnya. Menghadapi orang-orang bersenjata daripada melihatnya kecewa! Yaa Allah berikan hamba kemampuan setidaknya untuk tidak membuat ibuku kecewa.

    Usia ibu telah senja. Banyak orang mengatakan senja adalah keindahan, aku setuju. Senjaku walaupun tidak berwarna jingga tetap indah tiada tara. Suaranya sedap masuk telinga, teduh menghalangi mentari dari atas kepala, dan menetap tetap tidak berpindah di dalam dada.

    Aku ingin mengatakan, "Ibu, aku anakmu. Cintaku ada dan kurahap, ibu merasakannya. Ibu, anak-anakku adalah anakku, sama sepertiku, mereka juga akan mencintai bundanya sepenuh hati. Aku tidak menuntut balas cintaku untuk mereka karena aku damai engkau cintai."

Comments

Popular posts from this blog

KECEWA

YANG MENARIK DARI TAHI

Tuhan Mempertemukan Aku dengan Rudi