Tuhan Mempertemukan Aku dengan Rudi

Setelah melahap habis buku "Cantik itu Luka" karya Eka Kurniawan yang bertepatan dengan 7.7, di mana biasanya aku akan checkout buku baru di marketplace, aku tidak melakukannya karena keterbatasan biaya anggaran. Ada beberapa kebutuhan yang harus aku bayarkan sehingga meraup habis duit di rekeningku. Tentu berkaitan dengan bayaran semester istri di fakultas Pendidikan Guru SD dan bayaran pendaftaran anak di semester awal kelas tiga SD. Saat ini aku terus mengamankan tabungan dan biaya pendidikan anak beserta istri. Kebiasaan beli buku pada bulan Juli ini menjadi korban, tapi tidak masalah selama kebiasaan beli buku ini dieliminasi untuk biaya pendidikan. Rasanya tetap sebanding apa yang hilang dan apa yang didapatkan.

Kebiasaan membeli buku yang hilang tidak menghilangkan kebiasaan membacanya. Pelarian dari ketidak berdayaan untuk membeli dan menghadirkan buku baru untuk dibaca tentu ada. Internet Perpustakaan Nasional (Ipusnas) menjadi rotan selama akar (beli buku baru) dihilangkan. Jelas berbeda feel membaca buku fisik dan membaca buku secara digital. Membaca buku di Ipusnas tentu menggunakan sistem digital, dapat dibaca di gawai pendukung seperti smartphone atau laptop. Seperti halnya dengan Perpustakaan konvensional, Ipusnas juga hanya menyediakan buku untuk dipinjam berdasarkan jumlah ketersediaan di rak digitalnya. Apabila ada lima belas buku digital tersedia, maka kita dapat meminjamnya satu buah untuk kita pinjam dan baca selama lima hari. Kalau lima belas telah dipinjam semua oleh orang lain, maka kita harus antre untuk meminjam buku tersebut setelah orang lain yang telah meminjamnya selesai membaca atau masa pinjamnya telah habis.

Di tanggal tujuh Juli bertepatan dengan selesainya aku membaca buku "Cantik itu Luka" aku berjodoh dengan sebuah buku di ruang Ipusnas. Aku mencari buku biografi tokoh terkenal di Ipusnas dan melihat buku dengan judul "Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner" lalu aku klik buku tersebut dan unduh untuk meminjamnya. Setelah diunduh dapat aku baca untuk lima hari ke depan. Sebuah buku untuk mengenal Rudi, panggilan masa muda seseorang yang dengan rasa penasaran dan pengetahuannya akan berhasil menurunkan angka kecelakaan pesawat, menjadi wakil presiden, dan menjadi presiden yang berhasil membawa Indonesia keluar dari krisis masa kepemimpinan Orde Baru.

Kita tidak akan mengulas tuntas mengenai buku Rudy, dari halaman awal sampai akhir. Aku membuat post ini agar teman-teman yang mampir ke sini tergugah untuk membaca buku ini juga. Tentu dengan cara yang halal, tidak dengan mengunduh atau membeli buku bajakan yang berserakan di negara kita ini. Buku ini adalah buku yang mengagumkan. Tidak hanya berfokus menceritakan seorang tokoh yang hebat dan gemilang saja. Teman-teman semua, jika membaca buku ini akan segera terpukau dan merasakan romansa mengharukan dari seorang ibu di halaman-halaman awal dengan sebuah judul "Penerbangan yang Pertama".

Mari kita mulai;

Pada judul "Penerbangan yang Pertama" menjelaskan bagaimana Rudy berangkat untuk menjalani pendidikan di luar negeri. Sangat jauh berseberangan dengan Indonesia. Sehingga untuk sampai ke sana Rudy harus terbang menaiki pesawat yang bernama Connie (Constellation). Rudy begitu kagum dan gelisah ketika pesawatnya lepas landas. Selama di dalam pesawat ia tidak bisa duduk dengan tenang. Bukan karena ketakutan pertama kali terbang menggunakan pesawat, tapi karena ia amat menyukai pesawat. Ia ingin menyentuh semua sudut dan bagian pesawat tersebut. Tentu hal tersebut tidak dapat ia lakukan karena ada pramugari yang dengan tegas menatap Rudy seolah mengatakan  untuk tetap duduk tenang di kursinya.

Rudy merasakan kemewahan dari penerbangan pertamanya. Bukan tanpa alasan, Mami (Ibunda Rudy) membelikannya tiket pesawat kelas pertama. Tentu Rudy bukan dari keluarga yang kaya raya, tiket kelas pertama yang dibelikan Mami menguras banyak kemampuan keluarganya. Mami membelikan tiket tersebut karena Rudy akan menjalani pendidikan yang luar biasa di luar negeri. Mami ingin ikut berpartisipasi membuat pendidikan itu menyenangkan dengan membelikannya tiket pesawat kelas pertama. Walaupun harus membayar mahal tiket tersebut.

Dalam penerbangan pertamanya yang membuat ia tidak bisa menutup mata untuk beristirahat seperti penumpang-penumpang lain, yang ia lakukan melihat semua bagian pesawat yang bisa ia lihat dari tempat duduknya. Baik yang ada di dalam kabin pesawat maupun yang berada di luarnya seperti sayap dan baling-balingnya. Pikirannya melayang menelisik semua yang ia lihat bagai keajaiban. Bagaimana sebuah benda yang amat berat, yang beratnya mencapai ribuan kg bisa bergerak terbang berjalan di awan.

Pada saat ia melihat keluar pada baling-baling pesawat, ia melihat percikan-percikan api yang keluar dari baling-baling tersebut. Sontak dada Rudy berdebar kencang dan otomatis ia berteriak menggunakan bahasa Belanda "vuur! Vuur!" yang membuat banyak penumpang pesawat terkejut ada orang yang berteriak mengatakan api dalam bahasa Belanda. Pramugari yang bertugas bergegas mendekati Rudy yang tengah panik karena menemukan penampakan yang mengejutkannya. Pramugari bertanya ada apa kepada Rudy yang sedang panik. Rudy hanya membalas dengan "Vuur! Vuur!" sambil menunjuk jendela ke arah luar pesawat yang menampakkan baling-baling pesawat tersebut.

Pramugari itu pun melihat keluar melalui jendela yang ditunjuk oleh Rudy, lalu dia tersenyum melihat percikan api yang dimaksud oleh Rudy. Pramugari segera menyadari bahwa Rudy baru sekali itu melakukan perjalanan menggunakan pesawat. Pramugari sambil tersenyum kepada Rudy menjelaskan bahwa sudah menjadi hal biasa dalam perjalanan jika baling-baling pesawat mengeluarkan percikan-percikan api. Banyak penumpang yang dapat mendengar percakapan pramugari dan Rudy, sehingga ada banyak yang menertawai sambil merasa jengkel dengan kehebohan yang Rudy buat. Sambil menahan malu Rudy juga ikut tertawa dan kembali duduk di kursinya sambil mengelus dadanya untuk menenangkan debar jantungnya yang sempat berdetak lebih cepat dan keras karena menemukan api di baling-baling pesawat.

Begitulah penerbangan pertama yang dialami Rudy. Begitu menakjubkan dan bercampur rasa malu yang tidak bertahan lama karena menurut Rudy semua tetap membutuhkan hiburan. Saat rasa malu itu dirasakan hanya dengan menertawakannya semua akan menjadi reda. Pada saat kembali duduk ke kursinya sambil mengelus-elus dadanya, tanpa sengaja Rudy menyentuh kalung emas yang dibelikan Mami untuknya. Kalung emas itu bukanlah sebagai penunjuk bahwa Rudy adalah pemuda kaya raya dari Indonesia. Bukan pula sebagai barang untuk bermewah-mewahan ketika Rudy sampai di luar negeri untuk menjalani pendidikannya.

Kalung emas yang dibelikan Mami adalah benda yang dapat Rudy gadai, apabila Rudy kelak merasa kepepet kekurangan biaya di luar negeri.

Begitulah awal mula Rudy menempuh pendidikan di luar negeri. Rudy yang akan gemilang dan cemerlang adalah Rudy yang berangkat dari kasih sayang dan rasa cinta Mami terhadap dirinya dan kakak, beserta adiknya.

Sumber foto: Pinterest

Ketika membaca buku ini di halaman-halaman awal pada judul "Penerbangan yang Pertama" aku terbuai pada kasih sayang yang diberikan Mami kepada Rudy. Aku terbawa pada flashback ketika duduk di bangku kelas tiga SD. Di mana pada saat ulangan semester ganjil ada anak kelas enam yang bernama Pikal dengan sejahtera memukuli aku yang sedang mengerjakan tugas ulangan, padahal di kelas itu ada pak guru. Pak guru hanya menonton atau pura-pura tidak melihat kejadian tersebut. Ketika pulang seorang teman memberitahukan hal tersebut kepada ibu di rumah. Belum sempat aku berganti baju sekolah, aku sudah diajak ibu untuk ke rumah Pikal. Pikal sedang tidak ada di rumah, hanya ada ibunya. Lantas ibu memarahi ibunya Pikal di rumah Pikal, sangat lama.

Lalu keesokan harinya ibu mengurus kepindahanku dari sekolah tersebut ke sekolah yang jauh lebih baik, SD Muhammadiyah 34 Cikupa namanya. Sekolah baruku. Ibu ingin memarahi pak guru dengan kumis beruban pada saat mengurus kepindahanku. Tapi guru lain mengatakan Pak Guru itu sedang tidak masuk. Akhirnya ibu hanya menitip salam ketus untuk pak guru lewat guru lain itu.

Ibu mana pun selalu ingin anak-anaknya mendapatkan hal-hal baik. Ibu mana pun selalu ingin anak-anaknya jadi yang terbaik. Ibu mana pun selalu siap menjadi pelindung anak-anaknya dengan maksimal. Semua ibu; ibuku, Mami Rudy dan ibu kalian semuanya.

Maka wajar bahwa secara naluriah kita mencintai ibu dan ibu mendapatkan cinta dari kita, karena begitu juga perasaan ibu terhadap kita.

Comments

Popular posts from this blog

KECEWA

YANG MENARIK DARI TAHI