YANG MENARIK DARI TAHI
Tanpa perlu didefinisikan dengan jelas, semua orang rasanya tahu dengan apa yang dimaksud tahi. Bukan rasa tahinya, ya. Semua orang juga tahu kalau tahi ini adalah limbah yang kotor, jorok, dan menjijikkan. Sebab tahi merupakan sisa makanan yang telah diproses dalam sistem pencernaan manusia yang dikeluarkan melalui (lubang belakang --penjelasan halus--) / (Lubang pantat --penjelasan yang sangat jelas--). Tahi memang, seperti yang kita tahu kurang etis jika dibahas secara terus menerus dalam konteks kehidupan sehari-hari. Kebanyakan kita menganggap bahwa tahi hanya cukup ada untuk dikeluarkan. Rasanya dalam kondisi normal tidak ada yang mau di antara kita untuk kembali memakan tahi yang kita keluarkan. Beda halnya dengan orang sakit gila atau sedang dalam kondisi penyiksaan oleh orang lain.
Dari sebuah buku, ada hal menarik mengenai tahi. Ntah, apakah akan menarik juga atau tidak untuk para pembaca postingan ini. Dalam sebuah buku, ada pemuda yang tergabung dalam Partai Komunis Indonesia (PKI). Pemuda itu mengatakan, "Cara buang tahi kita harus sama dengan para kapitalis itu!". Kalimat ini merupakan istilah untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas. Memang seperti itu komunis, mereka ingin menciptakan masyarakat tanpa kelas dan tanpa kepemilikan pribadi. Maka tidak jarang kita temui sebuah isu mengenai komunis yang saling bertukar istri karena sejatinya tidak ada kepemilikan pribadi pada para penganut ideologi ini.
Tentu di sini kita tidak akan membahas benar atau salah PKI. Tidak ada yang perlu diyakini mengenai PKI karena memang semua anggotanya sudah dibantai habis dan PKI juga dianggap partai terlarang oleh Pemerintah Orde Baru. Baik nyawa raganya maupun nyawa pikirnya. Hanya saja perlu kita ketahui melalui tahi PKI pernah bersinar. Pernah menjadi partai besar di negeri ini dengan menyuarakan cara buang tahi yang sama kepada masyarakat. Tahi cukup berperan di partai ini. Memang bukunya adalah novel fiksi sejarah sehingga, mungkin saja hanya sekedar karangan penulisnya saja. Tapi tetap menarik untuk memercayai tulisan tersebut.
Dewasa ini tahi diharapkan hadir setiap hari dengan volume yang besar dan tekstur yang normal. Setidaknya ini menjadi harapan pribadi. Tahi yang keluar setiap hari merupakan kesenangan tersendiri karena dengan tahi itu, tubuh terjaga konsistensinya mempertahankan berat yang ada. Malah cenderung mendorong kita benar-benar menimbang berat badan dengan dugaan berat badan menyusut karena tahi telah terbuang sempurna.
Pernah ketika video call, istri saya mengatakan baru selesai buang tahi di toilet rumah. Katanya setelah buang tahi ia merasa menjadi ringan karena mungkin berat badannya menyusut setelah beberapa persen bobot tubuhnya terbuang di toilet. Mungkin beberapa orang walaupun sedikit juga merayakan kecil-kecilan dengan sekedar perasaan senang karena telah buang tahi.
Sebagai seorang perawat yang pernah bekerja di rumah sakit di ruangan rawat inap, beberapa kali saya merawat orang dengan keluhan kesehatan tidak bisa buang tahi beberapa hari sehingga perutnya terasa sakit. Dokter yang menangani pasien-pasien dengan keluhan kesehatan sulit buang tahi mengupayakan agar pasiennya bisa buang tahi. Sekali lagi, bukan menyembuhkan pasien dari demam atau penyakit diare, tapi berfokus mengupayakan pasiennya bisa buang tahi. Buang Tahi!
Perkara sulit buang tahi ini ada yang dapat ditangani dengan obat-obatan pencahar. Akan tetapi ada juga yang sampai dilakukan tindakan operasi besar di ruang operasi. Kalau anda menjadi bingung dan timbul pertanyaan mengapa tahi dapat menyebabkan operasi besar, mari saya coba jelaskan sesederhana mungkin berdasarkan pengalaman merawat pasien dan perbincangan bersama dokter bedah saat itu.
Acapkali pasien datang dengan keluhan nyeri perut, mual muntah, dan tidak bisa buang tahi. Setelah dicoba menggunakan beberapa obat yang diberikan oleh dokter --termasuk obat pencahar-- keluhan si pasien belum membaik. Sehingga dilakukan foto x-ray di bagian perut. Didapatkan ada tanda-tanda peradangan usus buntu yang sudah parah yang menimbulkan nanah sehingga mengakibatkan tersumbatnya makanan yang ada di dalam usus. Hal ini mengakibatkan pecahnya usus sebagai jalur makanan yang diproses menjadi tahi. Ketika ususnya pecah, makanan yang sedang diproses menjadi tahi berhamburan keluar dari usus di dalam perut sehingga keluar jalur, yang seharusnya menuju lubang pembuangan resmi, malah mengendap di dalam perut tidak bisa dikeluarkan dengan benar. Bisa kita sebut ileus sebagaimana dokter-dokter menyebutnya.
Pecahnya usus karena peradangan usus buntu harus ditangani dengan operasi besar di ruang operasi. Itulah kenapa, walaupun tahi ini cenderung kotor tetap penting untuk kita. Begitu tahi tersumbat terdapat kemungkinan kita merasakan sayatan pisau dokter di ruang operasi.
Menurut saya, dengan pengalaman berhubungan dengan tahi sendiri maupun dengan tahi orang lain, tahi menjadi indikator manusia bersyukur kepada tuhannya. Terkesan hal yang lumrah dan biasa membuang tahi setiap hari. Tapi apabila tuhan beri ujian seperti pasien-pasien tadi, tidak sedikit kerugian yang akan kita dapatkan. Ternyata melalui hal-hal kecil tuhan bisa menunjukkan kuasa-Nya kepada hamba-hambanya di dunia.
Kalian sudah buang tahi hari ini? atau, sedang kesulitan buang tahi?
Comments
Post a Comment