Tulisan Keempat
Kosong
Sebagai manusia yang menjalani hidup detik ke menit, menit ke jam, jam ke hari, hari ke minggu, minggu ke bulan, dan bulan ke... Gak mungkin matahari dong lanjutannya... Ya, benar, dari bulan ke tahun. Aku merasa bahwa hidup ini berjalan akrab dengan rasa sedih ketimbang rasa senang. Rasionya mungkin 7:3. Jelas yang 7 adalah sedih dan 3 adalah senang. Ini adalah rasa yang ku alami pribadi.
Dewasa ini aku merasakan bahwa rasa sedih lebih sering menghampiri. Di saat bersama dengan orang banyak mungkin, rasa sedih sedikit mengabur. Akan tetapi, ketika sendirian dengan pelan dan tak bisa dihalangi rasa sedih memasuki rongga dada seperti Jokowi memasuki gorong-gorong. Sedih.
Aku pernah denger bahwa rasa sedih datang berdasarkan akumulasi dosa masa lalu dan masa sekarang. Aku mau untuk tidak mempercayai hal tersebut. Tapi semakin dipikirin, semakin kayaknya, kok, iya, ya. Sebagai manusia biasa memang kalau mau flash back rasanya, dosaku emang kabanyakan, deh. Daripada mengupayakan memperbanyak amal ibadah dan menambah ilmu yang berkaitan dengan agama, membuat dosa malah lebih unggul dan mendominasi kehidupan dulu dan sekarang.
Dalam koridor paling sunyi dan dalam, ketika bersedih secara naluriah aku sangat merindukan ibu. Alhamdulillah ibu masih ada dan sehat. Hanya saja kami tidak tinggal di tempat yang sama walaupun tidak terlalu jauh juga jarak antara kami. Hanya 5 jam jarak tempuh menggunakan transportasi darat.
Ntah, mengapa, ketika rasa sedih datang sosok ibu yang rasanya paling aku butuhkan. Memori saat dulu ketika masih anak-anak kembali terputar ulang dan panjang. Romantisme yang aku alami bersama ibu sangatlah indah saat itu. Aku sangat menyukai ketika ibu membersihkan kotoran telingaku menggunakan pembersih telingan berbahan besi, bentuknya seperti cangkul. Hanya saja cangkul telinga jauh lebih kecil dan mungil.
Telinga yang dibersihkan dihadapkan ke atas, sedangkan kepalaku direbahkan di atas paha ibu. Saat ibu membersihkan telinga timbul sensasi nyaman dan enak. Walaupun ada saat-saat mungkin terlalu dalam ibu membersihkan telingaku, aku merasa kesakitan. "Aawww, sakit, Bu." masih hangat di dalam ingatan ketika aku mengeluh sakit kepada ibu ketika ia terlalu dalam membersihkan telingaku. "Tahan sebentar, ya. Itu ada yang gede (kotoran telinga) di dalamnya." Kata ibu sambil ia lebih berhati-hati agar aku tidak merasa kesakitan.
Memori sederhana seperti itu yang otomatis akan terputar ketika dewasa ini aku merasakan kesedihan. Kesedihan adalah sesuatu yang unik menurutku. Sering sekali rasa sedih datang tanpa sebab. Tau-tau aku sudah merasa tidak nyaman dan rasa sedih itu semakin kental ku rasakan.
Ada lagi memori yang akan otomatis terputar saat aku merasakan kesedihan, yaitu ketika kami pergi jalan-jalan. Ayah adalah orang yang sibuk, iya selalu bekerja. Aku adalah sorang siswa SD (Sekolah Dasar) yang masuk sekolah pukul 13:00 WIB. Sering sekali (walaupun tidak setiap hari) ibu mengajakku pergi ke pasar tradisional atau supermarket di daerah tempat kami tinggal. Kami pergi di jam pagi dan sudah kembali ke rumah siang hari sebelum aku masuk sekolah.
Aku adalah orang pemabuk ketika menaiki kendaraan ketika melakukan perjalanan. Aku masih ingat cara agar mengurangi rasa mabuk ketika berada di dalam kendaraan roda empat itu. aku akan merebahkan diri dengan kepala berada di atas pangkuan ibu dan kaki tetap menjuntai ke lantai angkot, sehingga membentuk huruf "L" terbalik. Lagi-lagi tempat ternyaman untuk mengurangi penderitaan adalah pangkuan ibu. Masih hangat dalam ingatan ketika aku selalu melakukan hal tersebut agar tidak mabuk perjalanan dan ibu selalu mengajak adikku yang batita dengan cara digendong menggunakan bedong, sambil menggendong adikku ia tidak pernah menolak atau keberatan menerima kepalaku dipangkuannya. mengingat-ingat hal-hal yang pernah terjadi bersama ibu selalu berhasil meringankan kesedihanku saat ini.
Aku sangat mencintainya, ibuku.
Terlalu banyak kenangan yang terputar bersama ibu ketika aku merasakan kesedihan. Aku tidak pernah membenci rasa sedih, dengan rasa sedih yang bersemayam aku dapat meromantisasi kenanganku bersama ibu.
Saat tulisan ini dibuat, umurku akan memasuki angka 30. Ibuku sudah memiliki cucu. Ia sudah bukan ibu yang pangkuannya ku rebahi. Saat ini ia adalah seorang nenek yang senyumnya merekah ketika cucunya mengunjungi dirinya di rumah. Ketika ia tersenyum di sudut matanya mengeriput mengikuti umurnya. Rambutnya didominasi warna putih. Semua berangsur berubah, yang tidak pernah berubah adalah perasaannya, aku sangat merasakan ia masih tetap mencintai kami semua. Aku, adikku, anak-anakku, dan juga istriku.
Aku tidak tahu apakah aku adalah anak yang baik untuknya? Apakah rasa cintaku dapat ia rasakan? Apakah ia bahagia karena telah melahirkanku?
Semua pertanyaan di atas adalah jembatan besar yang membuat rasa sedih melaju kencang memasuki diriku. Tak bisa dihalangi. Hanya saja bersama kesedihan aku selalu mengingat ibuku, dan tidak pernah terlewat doa untuknya ketika aku bersujud kepada-Nya. Ketika aku telah menyelesaikan sholatku, tak pernah aku lupa berdoa untuknya.
Sekali lagi aku menyampaikan bahwa, aku sangat mencintai ibuku.
"Allahummagfirliiwaliwaalidayyawarhamhumakamaarobbayaaniishogiroo"
Comments
Post a Comment