BELUM ADA DUA JAM DI RUMAH

Begitu sampai di rumah aku melihat istri dan anak ku yang balita telah menunggu di pance (tempat duduk yang datar terbuat dari bambu dan kayu) di depan rumah. Ketika sampai karena menggunakan motor warna hitam, helm hitam, celana panjang, bersepatu, dan menggunakan rompi berbahan parasut anak balita itu takut. Kata bundanya "Itu ayah, bukan polisi." ternyata yang ditakutkan oleh anak balita itu adalah polisi. Bukan ayahnya. Maka ketika aku membuka helm barulah anak balita itu tertawa dan menghampiri minta digendong, dipeluk, dan dicium.

Jam menunjuk ke angka 17:37 WIB. Istri dan anak-anakku belum ada yang mandi. Aku pun belum. Aku mandi duluan dan membuat perjanjian dengan istri dan anak-anak. Setelah aku mandi mereka semua juga harus mandi, mereka setuju. Menjadi pemimpin dalam rumah tangga memang harus memberikan contoh terlebih dahulu baru masyarakatnya mau menurut. Aku pernah membaca di post instagram yang mengatakan bahwa anak-anak tidak pernah menjadi pendengar yang baik, tapi anak-anak akan selalu menjadi pengikut yang baik. Maka, ketika aku mencontohkan mandi terlebih dahulu mereka semua rebutan ingin mandi setelahnya. Yang sulit bundanya, bukannya mandi malah masak.

Karena anak balita yang duluan dimandikan bundanya, kakaknya mandi setelah adiknya selesai. Ketika kakaknya mandi, si anak balita sudah rapi dan wangi serta rambut yang tersisir cantik. Ia mengajak ayahnya berkeliling naik motor dengan janji tidak akan jajan di Indomaret. Hanya keliling memakai motor saja. Si anak balita dan ayahnya bahadia menyusuri jalan lintas Sumatera di desanya. Di sepanjang perjalanan bolak-balik sampai di rumah, mereka bersenda gurau dan menyanyi di atas motor. Ayah selalu mengatakan adik cantik anak ayah dan bunda, dan si anak balita tersenyum sampai giginya terlihat. Mereka senang dan menikmati perjalanan. Si ayah senang mencurahkan perasaan cintanya ke si anak balita dan si anak balita senang diajak ayahnya berkeliling naik motor.

Ketika sampai di rumah kami menengok ke kamar, melihat sang kakak sudah selesai mandi atau belum. Pintu kamar tertutup rapat. Si anak balita mendorong sekuat tenaga pintu kamar, walaupun sekuat tenaga tetap saja yang keluar bukan tenaga yang dahsyat. Silakan dibayangkan tenaga yang dikeluarkan anak balita itu, anak balita yang susah makan. Pikir ayahnya mungkin sang kakak sedang ganti baju sehingga butuh privasi. Akan tetapi, lama kelamaan terdengar suara sang kakak yang sesegukan sambil menarik lendir dihidungnya dengan menarik nafas kuat-kuat. Sang kakak dengan khidmat bersedih dan menangis tanpa mengeluarkan suara yang menggelegar, berbeda ketika ia menangis sedang menuntut sesuatu ke bundanya.

Ayahnya menanyakan kepada sang kakak kenapa ia menangis. Sang kakak menjawab, tetap sambil menangis, "Ayah gak mau ngajak aku keliling naik motor!". Ayahnya terkejut dan tidak menyangka akan sebegitu sedihnya sang kakak bersedih karena ditinggal naik motor keliling. Ayahnya lalu meminta maaf kepada sang kakak karena meninggalkannya dan hanya mengajak si anak balita untuk berkeliling. Ayahnya benar-benar merasa bersalah kepada sang kakak karena ia menangkap bahwa sang kakak bersedih dan seperti dilupakan begitu saja oleh ayahnya.

Sejujurnya menjalani peran ayah tidaklah mudah. Menurutku kalau hanya sekedar menjadi ayah yang marah-marah dan tidak memperbolehkan ini itu kepada anaknya, maka sia-sia memiliki anak. Aku menginginkan jalinan kasih sayang dan cinta dari dua arah. Memperbanyak komunikasi di antar aku dan anak-anak. Hanya saja aku mengerti bahwa menjadi seorang ayah adalah pembelajaran yang sangat panjang. Ada banyak hal yang akan dimengerti oleh seorang ayah ketika ia benar-benar menjadi ayah. Sebelum menjadi ayah memang ada metode pembelajarannya, mempersiapkan seseorang menjadi ayah sebelum menjadi seorang ayah. Akan tetapi itu tidak akan cukup. Akan ada banyak persoalan di luar persiapan seseorang belajar menjadi seorang ayah ketika benar-benar menjadi seorang ayah. menjadi seorang ayah adalah pelajaran yang panjang, tidak akan terhenti sebelum nafas habis dan kehidupan berhenti.

***

Aku sudah pernah menjelaskan bahwa aku bekerja di sebuah perusahaan konstruksi yang mengharuskan aku untuk menginap di mess. Selama sebulan penuh aku tidak akan bertemu dengan istri dan anak-anak. Ketika jatah libur sekitar lima sampai tujuh hari barulah aku pulang ke rumah untuk bertemu mereka melepas tali rantai kerinduan, untuk bebas terobati di rumah. Sering ada pergolakan dalam hati menanyakan benar atau tidak melakukan pekerjaan seperti ini. Pekerjaannya sudah jelas halal, akan tetapi meninggalkan keluarga seperti hidup di dunia yang abnormal. Siapa yang sebenarnya nyaman melakukan ini semua. Secara realistis pekerjaan ini mendatangkan upah yang lumayan mencukupi kebutuhan-kebutuhan ekonomi jika dibandingkan pekerjaan secara umum.

Kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak membuat pekerjaan yang mengharuskan jauh dari keluarga menjadi pilihan tepat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Terkait kenyamanan aku sadar bahwa ini bukanlah perjalanan hidup yang aku inginkan. Kelak, aku ingin pekerjaan atau usaha yang menghasilkan upah lebih tinggi tanpa perlu menjalani kehidupan jauh dari keluarga. Sambil aku memohon kepada tuhan untuk mengabulkan apa yang menjadi impian, aku rutin olahraga menunggu saat impianku menjadi nyata dikabulkan tuhan.

Siapa yang dapat memastikan kapan impian menjadi nyata, rasanya tidak ada. Yang dapat dipastikan dari impian adalah permohonan dan keharusan usaha yang dilakukan agar impian itu memenuhi syarat untuk dikabulkan.

Comments

Popular posts from this blog

KECEWA

YANG MENARIK DARI TAHI

Tuhan Mempertemukan Aku dengan Rudi