LANGIT TIDAK PERNAH KEHILANGAN AWAN
Kalau mau berbangga diri, saya adalah seorang suami yang cenderung lebih sering di luar rumah karena bekerja sehingga berjarak dengan istri. Tapi, tetap setia. Sampai saat ini, setidaknya hampir sembilan tahun menginjak usia pernikahan kami.
Karena tempat kerja jauh dari rumah, saya bertempat tinggal di mess karyawan. Sangat seru dan mengasyikkan bermukim di mess. Ada beberapa suami-suami yang sulit mendapatkan ijin istri untuk keluar rumah. Saya dan teman-teman di mess terbebas dari yang namanya minta ijin. Lelah dan penat pulang dari bekerja, butuh teman ngobrol, tinggal main ke kamar sebelah. Semudah itu.
Tinggal di mess dan bekerja dengan jarak yang jauh dari rumah tentu semakin mendekatkan kami pada kejahatan-kejahatan. Dewasa ini, kejahatan tidak serta merta hanya kejahatan kriminal seperti pencurian, perampokan, dan pembunuhan saja. Kejahatan yang terselubung juga ada dan bertebaran. Terjerumus dalam jurang perjudian, dunia yang dekat dengan alkohol dan narkotika, serta perselingkuhan adalah kejahatan-kejahatan yang setiap saat mengancam bapak-bapak seperti kami. Kejahatan itu masuk melalui celah pertemanan atau pergaulan.
Bayangkan saja, apabila kami tidak memiliki kesadaran akan tanggung jawab dan kepercayaan dari keluarga, mudah sekali kami menjadi korban kejahatan-kejahatan tersebut. Perjudian online yang sangat mudah diakses, alkohol dan narkotika yang mudah ditemui, dan peluang untuk selingkuh berkhianat kepada istri karena hubungan jarak jauh menjadi hal yang sangat mungkin kami lakukan.
Lantas apabila kami terjerat oleh kejahatan-kejahatan tersebut, mengapa seolah-olah kami menjadi korban? Bukankah kami pelakunya. Saya rasa, apabila kejahatan-kejahatan tersebut dilakukan pertama kali, maka kami adalah korban. Bagaimana tidak? Kami adalah pria-pria beristri yang sebagian besar waktunya berada di luar rumah. Kami jauh dari alarm yang bisa memberikan peringatan hal-hal jahat, yaitu istri. Beda halnya dengan pria-pria yang melekat di rumah dalam jangkauan istrinya apabila sedang keluar sekedar mengantar anak sekolah, bekerja, dan sedikit main untuk melepas penat.
Pria-pria yang berada dalam jangkauan istrinya benar-benar beruntung. Istri-istri memiliki kepekaan yang tinggi apabila suaminya memiliki gelagat yang aneh. Kepekaan tersebut menipis apabila suaminya tidak berada dalam jangkauannya. Sehingga walaupun menjadi lebih sering cekcok dengan istri untuk pria yang selalu pulang ke rumah, bukankah itu seni dalam membina rumah tangga? Sistem untuk saling menegur terhadap apa pun yang terjadi dalam hubungan rumah tangga. Baik yang baik, maupun yang buruk. Semua harus dibicarakan dari dua arah.
Saya mau bersyukur. Saya tidak pernah menggunakan uang untuk berjudi, tidak mengonsumsi minuman beralkohol, tidak menjadi pecandu narkotika, dan tidak menjalin hubungan spesial dengan wanita lain. Apakah semua itu akan bisa saya pertahankan sampai saya menutup usia? Semoga saja. Siapa yang dapat menjamin bahwa saya akan bisa konsisten mempertahankan hal-hal baik yang saya lakukan di dunia ini? Yang bisa saya jamin adalah mempertahankan niat yang serius untuk menjauhi hal-hal yang dapat merugikan diri saya pribadi dan keluarga saya. Saya yakin itu.
Saya memiliki prasangka bahwa orang-orang yang melakukan hal-hal negatif tidak pernah merasa aman dan nyaman dalam menjalani hidup ini. Saya tidak mengerti mengenai karma. Hanya saja sesuatu yang negatif akan selalu menghasilkan hal-hal negatif juga. Aura yang negatif juga. Dan itu, mengerikan.
Pernah saya mendengarkan perbincangan dua orang teman. "Kenapa kamu melakukan perselingkuhan?" Tanya salah satu teman kepada teman yang lain. "Tidakkah kamu takut apabila istrimu di rumah melakukan hal yang sama?" lanjutnya. "Biarkan saja istriku juga berlaku hal yang sama. Yang penting pada saat aku di rumah dia tidak melakukannya di depan mata kepalaku." Jawab teman yang ditanya. (Saya amat ngeri mendengar jawabannya dan saat menuliskan hal ini, perasaan ngeri itu semakin jadi)
Di mana letak kenikmatan membina hubungan rumah tangga apabila satu sama lain melakukan perselingkuhan? Tak masuk di akal, tak dapat diterima oleh hati nurani. Hambar dan mati rasa perasaan pasti menjalani hubungan rumah tangga yang mengerikan seperti itu. Betapa iblis telah tertawa terbahak-bahak karena telah berhasil merasuki jiwa orang-orang yang berpikiran dangkal tanpa perasaan.
(Sambil menarik nafas saya akan menuliskan hal yang tak kalah mengerikan untuk kita bahas). Pertanyaannya, bagaimana ketika kita telah berhasil untuk tidak melakukan hal-hal mengerikan seperti perselingkuhan, tetapi istri malah selingkuh? (Jlebbb!!! Jantung ini bagai ditusuk busur panah yang telah dilumuri racun super mematikan)
Jawabannya!
Mari menjadi suami yang bertanggung jawab dan jujur. Menjauhi hal-hal negatif baik ketika di dekat istri maupun sedang berada jauh dari istri. Hal ini akan membuat kita sebagai suami memiliki prinsip dan pendirian yang kokoh. Saya berprasangka. Untuk kita yang hidup dengan sungguh-sungguh, menghidupkan jiwa raga dengan siraman hal-hal yang bermanfaat akan menjadikan kita sosok yang berani dan terukur. Berbeda dengan salah satu rekan kami yang menjalani kehidupan sesuai kehendak iblis, saya yakin ketika ia menemukan masalah ia hanya akan menjadi orang yang menyalahkan orang lain. Tidak tahu diri. Tidak akan ada keputusan yang baik dan jernih. Ia hanya akan menjadi orang yang bingung dan kehilangan arah. Menjadi manusia tak berguna dalam bersikap kecuali, bertaubat.
Allah SWT selalu membuka pintu taubat untuk semua hamba yang kembali bejalan pada-Nya.
Sedangkan untuk yang memang berjalan konsisten di jalan-Nya. Mari kita yakinkan diri, Allah SWT akan memberikan ganti yang lebih baik untuk kita. Jika kita dikhianati.
Segala tragedi yang terjadi adalah pembelajaran untuk diri kita melakukan evaluasi. Sebenar-benarnya kita menjalani hidup, baiknya kita tidak pernah lupa bahwa, manusia tempatnya salah dan lupa.
Comments
Post a Comment