Demonstrasi, Rakyat dan Politisi

Ngeri banget melihat keadaan negeri ini beberapa hari ke belakang. Teman-teman pasti tahu demonstrasi yang terjadi di mana-mana, di banyak wilayah Indonesia. Kalau ingin kita melihat duduk perkara yang terjadi atas kejadian demonstrasi besar kali ini, karena;

Bermula dari kebijakan efisiensi yang digaungkan pemerintah membuat perekonomian lesu. Terjadi banyak PHK, kesempatan rakyat mendapat pekerjaan layak dengan gaji yang tinggi, sepi!!! Di tengah kegundah gulanaan rakyat, santer terdengar bahwa gaji anggota DPR kita semena-mena tingginya. Mari kita rasakan, ada banyak masyarakat yang lagi bingung memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan anggota dewan adem ayem sambil joget-joget seperti ayam.

Maka dengan keadaan demikian rakyat turun ke jalan. Mereka melakukan demonstrasi dengan maksud menyampaikan keluh kesah dan aspirasi untuk perbaikan negeri. Apakah demonstrasi merupakan tindakan yang tidak dibenarkan?

Teman-teman, demonstrasi di negara demokrasi sudah pasti dibenarkan untuk dilakukan. Pemerintah selalu mengatakan, "Silakan rakyat demo dan sampaikan aspirasi, tapi... jangan rusuh/anarkis." Maka dibenarkan melakukan demonstrasi. Lantas mengapa demo hampir setiap dilakukan selalu rusuh?

Menurut hemat saya, rakyat yang turun ke jalan merupakan rakyat yang lagi sebel sama pemerintah. Ketika mereka turun ke jalan, mereka diabaikan. Pejabat yang berkewajiban menemui para demonstran, ngumpet! Atau malah pergi melancong ke luar negeri. Terjadilah bentrok dengan aparat yang bertugas melakukan pemantauan aksi demonstrasi. Bahayanya, aparat kita ini juga sepertinya mendapatkan perintah dari atas untuk melakukan tindakan represif. Karena situasi yang tambah tidak terkendali muncullah korban, baik yang mengalami luka-luka sampai yang meninggal dunia.

Saya sendiri heran, kenapa pejabat-pejabat kita mulai ambil tindakan untuk tampil ke publik setelah aksi demonstrasi menjadi tak terkendali dan setelah ada korban berjatuhan. Namun kalau kita memalingkan pandangan ke aksi yang paling damai. Tanpa kekerasan, kerusuhan, aksi bakar-membakar, dan aksi bentrok dengan aparat, maka panjang masa perjuangan sampai 17 tahun belumlah selesai. Aksi itu adalah Aksi Kamisan, payung hitam yang menuntut keadilan. Sudah 17 tahun dilakukan tanpa pernah mendapat perhatian dari pemerintah!

Saya sendiri menaruh perhatian khusus kepada Presiden RI. Sudah sekian bulan menjabat, Pak Presiden kita ini doyan banget ngomong kasar dan ngawur. Mulai dari 'ndasmu' sampai 'brengsek' hanya karena isi gelasnya bukan kopi! Atau karena program andalannya MBG banyak kritik dari khal layak ramai!

Saya sendiri ketika melihat pejabat tinggi mulutnya asal-asalan, jadi meragukan kualitas komunikasinya. Tidak hanya Presiden RI, ada beberapa pejabat dan politisi juga jadi ikut-ikutan. Mungkin karena menilai mereka akan aman asal ngomong karena presidennya juga seperti itu ngomongnya. Demonstrasi kali ini juga menjadi amarah besar rakyat karena salah satu dewan mengatakan "Orang tolol sedunia yang mau bubarin DPR!!!"

Meletuslah sejadi-jadinya amarah rakyat.

Penting sekali teman-teman untuk tidak menjadi fans fanatik para pejabat. Mereka itu manusia juga. Penuh salah dan lupa sama seperti kita. Maka dari itu cara menyikapi yang paling benar adalah dengan mengingatkan dan mendoakan mereka. Tidak ada ruginya melakukan itu semua karena apabila pejabat kita sadar dan memperbaiki diri akan berdampak baik secara langsung kepada kita. Doakan mereka karena kita umat beragama. Ingatkan mereka dengan demonstrasi karena kita peduli akan nasib negeri.

Terakhir, kalau ada rakyat yang melakukan aksi demonstrasi, mari kita dukung sepenuhnya. Mungkin kita tidak berkesempatan untuk ikut aksi. Tapi, kita dapat bersuara dengan jari-jari kita di sosial media. Bukan malah nyinyir karena kalian fans fanatik pejabat.

Comments

Popular posts from this blog

KECEWA

YANG MENARIK DARI TAHI

Tuhan Mempertemukan Aku dengan Rudi